"Kalau lagi sendirian kamu ngapain aja sich?" Tanya Alif ingin mengenal lebih dalam.
"Ihh... koq nanya gitu?"
"Anuu.. maksud aku, kamu ngerjain apa kalau lagi sendirian?"
"Ihh..."
"Ya udahlah kalau ga mau jawab."
Alif merasa salah memilih kata-kata.
Sebenarnya Kinar pun maklum apa maksud dari pertanyaan Alif. Tapi memang dia tak ingin menjawabnya. Apa yang harus diceritakan kepada pemuda pujaannya itu tentang pekerjaan sehari-harinya. Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Sama saja seperti perempuan-perempuan lain.
"Nampaknya hari udah mulai siang. Aku pulang dulu ya!" Alif berucap mau pamit.
"Lho koq cepat?"
"Kan udah selesai sarapannya. Enak lagi."
Kinar tersenyum menerima pujian Alif.
"Makasih ya! Kapan-kapan boleh numpang sarapan lagi?" tanya Alif dengan wajah bercanda, padahal serius.
"Tiap hari pun boleh." jawab Kinar.
"He he he... Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya. Assalamualaikum!" ucap Alif sambil berdiri dari duduknya.
"Alif, nanti kalau kamu ke dusun utara hati-hati sama kelompok Nobus ya. Nampaknya mereka kurang senang dengan keberadaan kamu di sini." ucap Kinar memberitahu.
"Hahh.. siapa itu?" tanya Alif agak cemas.
"Warga dusun utara. Mereka bukan orang jahat. Sama aja dengan orang kampung di sini. Tapi mereka ramai. Katanya mereka tidak suka kamu berlama-lama tinggal di kampung ini. Nanti kalau ketemu nasehati aja sedikit."
Alif diam mematung, diurungkannya langkah untuk beranjak pergi.
"Ga usah takut. Mereka tak akan berbuat jahat koq. Hanya saja mereka kurang senang."
"Sehebat apa sih mereka?' tanya Alif semakin penasaran dan cemas.
"Tidak lebih hebat dari kelompok Gopang. Tapi mereka memiliki kemampuan mengubah diri menjadi binatang buas dan rata-rata tenaga mereka juga sangat kuat, melebihi orang kebanyakan."
Alif tetap diam mematung. Dia sama sekali tak menyangka ternyata ada sebagian warga yang tidak menyukainya tinggal berlama-lama di kampung ini. Padahal dia sudah berusaha berlaku baik dan ramah kepada semua penduduk kampung.
"Ga usah takut. Nanti kalau bertemu dengan mereka jelaskanlah alasan kamu tinggal di kampung ini. Nasehatilah sedikit. Tapi kalau mereka masih bandel, pegang kalung rotan yang ada di leher Nobus. Ancamlah bahwa kamu akan mematahkannya dan menghancurkan batu liontinnya jika mereka tetap tak berhenti!" jelas Kinar sangat detail.
Alif mendengarkan dan mengingat semua penjelasan Kinar dengan seksama. Alif yakin Kinar tak berbohong. Persis seperti pada malam kejadian itu, Kinar meminta Alif mencabut kapak dari kepala Korak Jambul.
"Baiklah. Terima kasih atas penjelasannya." ucap Alif sudah mulai agak tenang.
Wajahnya sudah mulai bisa tersenyum. Dia sudah memegang kunci rahasia yang akan digunakannya nanti jika memang kebetulan bertemu dengan kelompok Nobus.
"Jadi, yang tadi gimana?" tanya Kinar.
"Yang tadi apa?"
"Mengembalikan tenaga."
"Oooh itu. Ga jadi deh.. kayaknya aku ga bakalan sanggup."
"Lhoo.. koq gitu? Masa?"
"Pokoknya ga jadi. Aku ga bakalan sanggup. Ya udah ya, Assalamualaikum!"
Kinar kembali tersenyum cerah. Aroma tubuhnya tercium sangat santer. Bahkan semak dan pohon-pohon pun berliuk-liuk gemulai, senang dengannya
"Besok-besok sarapan di sini lagi ya!" ucap Kinar menawarkan sambil berdiri mengantar kepergian Alif.

0 Comments