Syarat Mustahil Menuang Laksa Jiwa - 5

 

"Gimana sih caranya?" tanya Alif menunjukkan keseriusannya.

"Ga susah koq. Kamu pasti bisa." jawab Kinar sambil tersenyum.

"Serius, ga susah?"

"Iya. Cuma direndam di sungai 7 hari. Dipendam di tanah 7 hari. Tidur berselimut kulit pohon terap sebulan. Dan, makan daging hewan bertaring 7 hari." jawab Kinar menjelaskan dengan detail.

"Hah... makan daging hewan bertaring?" tanya Alif terkejut.

"Iya. Harimau, babi, atau gajah juga ga boleh."

Alif terdiam mematung. Bahkan kunyahannya pun berhenti. Mukanya terlihat serius menatap Kinar.

"Ga usah khawatir. Nanti aku minta tetangga menangkap harimaunya untuk kamu." 

Alif tetap saja mematung dengan wajah serius. 

"Apa lagi? Koq masih cemberut? Ga usah takut, kamu pasti bisa koq. Aku juga senang, akhirnya ada orang yang mau aku ajari sesuatu untuk pengobatan." ucap Kinar menunjukkan kegembiraannya.

Alif cepat-cepat menghabiskan kolak yang tersisa di mangkuk. Lalu minum dari cangkir bambu sebagai penutup. Setelah selesai baru dia berucap.

"Kalau gitu ga jadi, deh."

"Lho... kenapa?"

"Kayaknya aku ga bisa."

"Ga bisa kenapa?"

"Ga bisa makan daging harimau atau babi."

"Emang kamu punya pantangan ga boleh makan daging hewan berkaki empat ya?"

"Bukan begitu. Bisa ga diganti makan daging rusa atau kambing aja?"

"Hi hi  hi... " 

Kinar malah tertawa lirih mendengar permintaan Alif. Matanya berbinar menatap wajah Alif yang serius. Kinar menganggap Alif cuma bercanda.

Padahal Alif betul-betul serius tak akan pernah memakan daging kedua hewan itu. Dia bahkan sudah mengubur keinginannya seketika itu juga untuk memiliki kemampuan pengobatan yang sangat dahsyat dan berguna itu. Syaratnya terlalu berat. Dia tak akan sanggup melakukannya. 

"Alif, nama kamu sebenarnya siapa sih?"

Alif kembali mengerutkan keningnya menatap gadis di depannya itu dengan serius. Seorang gadis berparas cantik, secantik bidadari, memiliki hati yang sangat bersih, suka menolong sesama. Untuk apa dia ingin mengenalku, sipendosa ini? Ucap bathinnya. 

"Alif Attarani Hasbullah."

"Ooo... jadi bukan Alif Ba Ta, ya?"

"Lho.. koq gitu?" tanya Alif heran. 

Dia langsung teringat pertama kali Korak memanggilnya dengan nama itu pada saat bertemu.

"Nama kamu itu sudah kami dengar sejak beberapa tahun yang lalu. Semua warga di sini sering membicarakan kamu. Baju putih dan tombak pendek itu mejadi penanda. Makanya saya langsung kenal waktu bertemu malam itu."

"Apa aja yang diceritakan warga tentang saya?"

"Alif Ba Ta, pemuda berbaju putih bertombak pendek, tak punya rumah, suka menolong orang lemah, cucu kakek Nurbas bin Salam, pemilik jurus Kepak Jibril Membelah Fajar."

"Waahh..."

Alif menggaruk-garuk kepala mendengar cerita Kinar. Ada senyum tipis kecut di wajahnya. 

Ternyata reputasinya sudah sampai duluan di kampung itu sebelum dia tiba. Kelihatannya dia tak bisa lagi sembarangan gombal. Sebab ternyata Kinar dan warga sudah mengetahui profil lengkapnya

"Kalau nama kamu siapa?" Alif sekarang balik bertanya.

"Kinar."

"Kinar apa?"

"Kinar aja."

"Masa Kinar aja."

"Iya. Emang Kinar aja."

"Bohong!"

"Emang maunya kamu nama saya bagusnya apa?"

"Lho, koq nanya?"

"Hi hi hi..."

Kinar tertawa ceria. Wajahnya betul-betul berbinar. Aroma tubuhnya semakin keras tercium memenuhi udara. Kelihatannya dia betul-betul bahagia.

Alifpun ikut senang melihat gadis yang dikaguminya itu bisa tertawa lepas. Dia ingin terus menghabiskan waktu bersama. Tak ada lelah dan risau yang tersimpan di hati jika berdua dengan Kinar. Aroma bunga dari tubuhnya itu mampu menghilangkan penat bathin. Gadis ini betul-betul terlahir sebagai seorang penyembuh. Seolah-olah semua penyakit raga dan bathin bisa berkurang pedihnya bahkan sebelum dia menyentuh.

(Bersambung)



Sebelumnya     Selanjutnya

Post a Comment

0 Comments