Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan, untuk membenahi hati dan tubuhnya agar kembali menjadi manusia normal.
Tak lama berselang Kinar kembali menghampirinya. Kedua tangannya menopang sebuah nampan kayu. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk dan cangkir. Semuanya terlihat sangat sederhana dan natural. Mangkuk itu kelihatannya terbuat dari sebuah tempurung kelapa yang sangat besar dan cangkir itu terbuat dari bambu yang juga besar, yang dipotong.
Kinar lalu meletakkan nampan itu ke atas bangku, tepat disebelah Alif duduk.
"Sarapan dulu. Kalau kurang enak tetap harus dihabisin ya!" Kinar mempersilakan sambil tersenyum berseloroh.
Alif hanya tersenyum tak menjawab.
Di dalam mangkuk itu dilihatnya kolak pisang yang cukup menggiurkan. Kuahnya cukup banyak dan kental. Begitu juga dengan isinya yang terlihat putih kekuningan. Sebuah hidangan manis yang sangat cocok untuk disantap sebagai sarapan. Apalagi dalam keadaan perut keroncongan.
Dengan gerakan pelan tapi pasti Alif menggapai cangkir bambu itu. Dia ingin minum beberapa teguk sebelum sarapan. Dengan ucapan bismillah diteguknya air dari cangkir bambu itu. Hangat dan nikmat. Masuk kekerongkongan dan rongga dadanya. Membuat dadanya seketika menjadi segar dan lapang.
Alif terseyum. Dalam hatinya dia berkata, airnya saja nikmat apalagi kolak pisangnya.
Lalu diletakkan cangkir itu. Selanjutnya tangannya menggapai mangkuk yang berisi kolak pisang. Sekali lagi dia mengucapkan kata bismillah dengan perlahan sambil menyuap ke mulutnya.
Beberapa saat kolak itu dikulum di dalam mulutnya untuk mengenali dan menikmati rasanya. Ternyata dugaannya sama sekali meleset. Rasanya tak senikmat tampilannya. Ada beberapa rasa yang kurang di sana. Manisnya pas, kentalnya juga pas, tapi terasa kurang gurih dan aromanya juga kurang wangi. Namun, sebagai seorang tamu tentu saja tak sopan dia mengomentari kekurangan itu. Lagipula perutnya sudah keroncongan, jadi yang ada nikmat saja yang terasa.
Kinar menatap semua yang dilakukan Alif saat menikmati hidangannya. Hatinya sangat puas ketika melihat senyum Alif saat meminum air putih hangat. Tapi tiba-tiba saja dia berdebar ketika melihat ada kerutan kecil di kening Alif ketika memakan kolak pisang yang dihidangkannya.
"Kurang manis ya?" tanyanya dengan gugup.
"Mmm... pas manisnya!" Jawab Alif tidak berbohong.
"Terus, koq keningnya berkerut?"
"Masa!?!" jawab Alif sambil meraba keningnya.
"Kurang enak ya?" tanya Kinar lagi penasaran.
"Mmm... siapa bilang? Mungkin inilah kolak pisang terenak yang pernah ada." jawab Alif sambil menyuap sesendok penuh ke mulutnya. Lalu dikunyahnya sambil melihat ke wajah Kinar dengan serius.
Memang itu adalah kalimat gombal yang mengandung sedikit kebohongan. Tapi dengan begitu dia ingin menyenangkan hati Kinar yang mungkin telah bersusah payah membuatkan makanan ini subuh tadi. Kolak ini dibuat dan dihidangkan kepadanya dengan sepenuh hati, tentu saja diapun ingin memakannya dengan sepenuh hati. Sungguh kurang ajar membicarakan aib yang hanya secuil dibandingkan dengan nikmat yang begitu banyak.
Benarnya saja, kini Kinar bisa tersenyum senang dan tersipu. Ternyata kolak pisang yang dibuatnya adalah kolak pisang terenak yang pernah ada. Dan yang paling membahagiakan adalah kalimat itu diucapkan oleh orang yang selalu membuat hatinya meleleh. Orang yang selalu diharapkan kehadirannya dan orang yang selalu menenangkan hati ketika berada di dekatnya.
"Habisin!" ucap Kinar sangat lirih sambil tersenyum tersipu.
"Yap...!!" ucap Alif agak keras.
Tanpa disuruhpun dia memang berniat menghabiskannya tak bersisa. Bahkan dia berniat untuk nambah jika diizinkan.
Lalu keduanya diam saja, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ajarin cara ngembaliin tenaga yang kayak malam itu dong." ucap Alif tiba-tiba.
"Hahh... Menuang Laksa Jiwa!?" tanya Kinar memastikan.
"Ooo... jadi namanya menuang laksa jiwa ya?" tanya Alif sambil tetap terus menyuap kolak ke mulutnya.
"Serius mau?" tanya Kinar kembali memastikan.
"Iya... mau bangat. Emang kenapa?"
"Soalnya itu 'kan buat pengobatan. Dipelajari untuk mengobati orang lain. Bukan untuk bekal berkelahi. Emang kamu mau?"
"Mau dong. Mau bangat malah. Biar nanti bisa nolong kamu kalau ada apa-apa."
Mulai lagi gombalnya. Dengan muka serius pula.

0 Comments