Syarat Mustahil Menuang Laksa Jiwa - 3

 Pada saat itu dia sudah melihat tanda-tanda bahwa Korak akan segera siuman. Meski racun dalam aliran darahnya masih belum bersih, tapi Korak bukanlah orang biasa. Dia memiliki kekuatan dan semangat hidup yang tinggi. Itulah mengapa dia masih bertahan sampai saat ini. Ditambah dengan kemampuan pengobatan Kinar yang memang sangat dahsyat maka pemulihannyapun menjadi jauh lebih cepat dari seharusnya. 

Duduk di dalam kamar sendirian, hati Kinar gundah bukan kepalang. Lama dia menatap setiap benda yang ada di kamarnya. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan selama ini. 

Kursi dan meja hias tua, ranjang dan kelambu yang juga tua, jendela kayu dan gorden yang sudah usang, semuanya sama saja seperti sebelumnya, tua dan usang. Padahal, sebelum ini semua benda itu masih terlihat sangat layak. Semuanya bersatu memberikan kenyamanan kepadanya saat berada di sana. Tetapi kenapa hari ini terlihat berbeda.

Selanjutnya, direbahkan tubuhnya ke ranjang tua berderit dengan kasur usang berdebu. Dia berbaring dan menjadikan pergelangan tangan kanannya sebagai bantal. Dilepaskannya pandangannya keluar jendela, ke arah daun pohon yang rimbun menghijau. Sementara air matanya terus menetes membasahi sebagian baju dipergelangan tangannya. 

Sebenarnya disaat seperti ini sama sekali dia tidak ingin bersedih. Dia lebih suka membayangkan hal-hal yang menyenangkan yang akan dilakukannya dengan Alif nanti. Duduk berdua bercerita tentang hal-hal di dunia luar sana yang belum diketahuinya. Bila ada kesempatan bersama, dia juga ingin pergi menjerat rusa, menangkap ikan di sungai, atau mulai berkebun di sekitar pekarangan rumah. Sangat banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama jika Alif berkenan tinggal lebih lama di kampung itu. 

Namun, semua banyangan kebahagiaan itu bukannya membuat hatinya berbinar, tapi malah semakin terasa teriris-iris dan hampa. Siapa yang bisa menjamin bahwa semua itu bisa terjadi, atau yang lebih menyedihkan, siapa yang bisa menjamin bahwa pemuda itu mau tinggal lebih lama di kampung mengerikan ini. 

Tiba-tiba dari luar rumah terdengar ucapan salam. Sebuah suara yang sangat dikenal dan sangat ditunggu-tunggu.

Namun, Kinar tak segera bergegas untuk membukakan pintu. Disekanya bekas air mata yang masih menempel di pipi. Dirapikan rambut dan pakaiannya. Sengaja itu semua dilakukan dengan teliti dan lambat. Dia ingin membuat pemuda itu menunggu sedikit lebih lama. 

Entah mengapa meskipun dia bukan seorang muslimah tapi Kinar selalu senang mendengar pemuda itu mengucapkan kalimat salam setiap kali bertemu. "Assalamualaikum", entah apa artinya itu, dan dia juga tak tahu harus menjawabnya dengan kalimat apa.

Setelah beberapa saat dia membiarkan pemuda itu mengucapkan salam baru dia keluar kamar dan membukakan pintu depan dengan senyum secerah matahari pagi. 

"Alif. Sini, masuklah!" ucapnya mempersilakan. 

Dilihatnya pemuda itu berdiri cukup jauh dari pintu. Hampir di luar pekarangan. 

Bukannya melangkah menuju ke pintu, si pemuda malah berjalan mendekati sebuah bangku panjang yang ada di bawah pohon. Lalu duduk di sana sambil membelakangi Kinar yang masih berdiri di pintu. 

Mau tak mau Kinar harus melangkah keluar untuk menghampirinya. 

"Koq di sini?" tanya Kinar setelah berdiri di samping si pemuda.

"Yaahh... di sini aja lebih sejuk." jawab si pemuda tanpa menoleh ke arah Kinar. 

Dia memandang berkeliling ke rumah-rumah penduduk terdekat, yang terjangkau oleh pandangan matanya. Ada sedikit perasaan tak enak berkunjung ke rumah seorang gadis yang hanya tinggal sendiri. 

Ini salah, kata hatinya.

"Gimana tadi di sana? Sudah sadar?" tanya Kinar selanjutnya. 

Entah kenapa lidahnya selalu enggan untuk mengucapkan nama Korak, yang menyiratkan makna kasar itu. 

"Masih sama kayak kemaren. Tapi jari-jarinya tadi sudah mulai bergerak ketika dipanggil." jawab si pemuda sekenanya.

Sebenarnya dari tadi jantungnya sudah berdegup sangat kencang karena mencium aroma wangi tubuh Kinar yang masuk ke rongga dadanya. Aroma itu sanggup membangkitkan gariah yang tak biasa yang sulit untuk dilawan. Membuat perasaan nyaman dan gelisah sekaligus. Gadis ini betul-betul godaan yang sangat sulit untuk ditolak, bahkan sebelum melihat wajahnya sekalipun.

"Tunggu sebentar, aku ambilkan sarapan ya!" kata Kinar lagi.

"Heeh..."

Kinar beranjak melangkah dari tempat itu. Sementara Alif berusaha membenahi hatinya yang berkecamuk, bergejolak.

Meskipun si gadis sudah berjalan cukup jauh namun aroma tubuhnya masih saja tercium. Tidak hanya menempel di hidung Alif, tapi juga di otak dan hatinya. Sehingga jantungnya tetap saja berdegup keras.
(Bersambung)


Sebelumnya    Selanjutnya 

Post a Comment

0 Comments