Dia terus melangkah, melewati beberapa orang warga yang menyapanya dengan tersenyum.
Alif menjawab sapaan mereka dengan memberikan salam, "Assalamualaikum!"
Namun, sampai saat ini belum ada seorang wargapun yang membalas salamnya. Heran!
Meski agak merasa kecewa tapi dia bisa menerimanya.
Tak seberapa jauh lagi sampai ke rumah Korak Jambul, Alif melihat Kinar di kejauhan berjalan dari arah berlawanan. Tentu saja hatinya gembira tak terkira. Dipercepat langkahnya. Dia ingin segera bertemu dengan dara yang makin mengikat hatinya itu. Aroma wangi bunga mulai tercium menenangkan rongga dada.
"Assalamualaikum!" sapa Alif ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Seperti biasa, Kinar hanya tersenyum tak membalas salamnya.
"Mau kemana?" tanya Alif selanjutnya.
"Ketemu kamu."
"Haahh... Ada apa?"
Kinar tak menjawab, hanya tersenyum saja.
"Kamu sendiri mau kemana?" Kinar balik bertanya.
"Heeh..., ke rumah Korak, abis itu ketemu kamu." jawab Alif mulai gombal.
"Mau ngapain?"
Gantian, kini Alif yang tak menjawab. Hanya tersenyum saja.
"Udah sarapan?" tanya Kinar berikutnya.
"Heehh,... Hmmm..." jawab Alif ragu-ragu. Tak tahu harus menjawab apa.
"Yuk.. sarapan di rumah..." ajaknya.
Alif ragu-ragu mau mengikuti. Karena tujuan dia berangkat dari rumah tadi adalah untuk menjenguk Korak. Lagipula saat ini perutnya belum lapar. Tapi karena yang mengajak adalah Kinar, dia jadi serba salah untuk memilih.
"Ayook..." ajak Kinar lagi karena melihat Alif lama diam.
"Hmmm... anu... trus, Korak gimana?" tanya Alif.
"Nanti kalau sudah sarapan baru jenguk."
Kembali Alif diam saja beberapa saat. Dia masih ragu.
"Gini aja, nanti kalau udah selesai jenguk aku ke rumah kamu. Mudah-mudahan tak lama. Gimana? Boleh?" Alif memberikan pertimbangan.
Sebenarnya, jauh di dalam hati, ingin sekali Kinar mengajak Alif sekarang juga. Selain rasa rindu yang telah membuncah-buncah dia juga ingin memberitahukan beberapa hal kepada Alif.
"Ya bolehlah, kalau gitu. Aku tunggu dirumah aja ya!" jawab Kinar dengan wajah tersenyum namun hati kecewa.
"Yap... Assalamualaikum!"
Kembali seperti biasa, hanya senyum saja yang diterima Alif sebagai jawaban.
Mereka berdua berpisah. Alif segera melangkah ke rumah Korak yang tak jauh dari situ. Sedangkan Kinar langsung bergegas pulang ke rumahnya, yang juga tak jauh dari situ.
Jika dibandingkan dengan rumah warga lain, rumah Kinar adalah rumah yang paling nyaman untuk ditinggali. Bersih, teratur, sejuk, dan halamannya luas. Meski tak terlalu besar, namun rumah itu sudah cukup layak untuk disebut sebagai sebuah rumah. Bukan pondok, seperti rata-rata rumah warga yang lain.
Sesampai di rumah, Kinar lansung masuk kamar. Hanya duduk saja di bibir ranjang tanpa melakukan apapun. Hatinya risau.
Bagaimana jika pagi ini Korak sudah siuman? Tentu hutang Alif sudah selesai. Jika begitu, tak lama lagi dia akan pergi dari kampung ini. Pergi yang mungkin tak akan balik lagi ke sini.
Lalu bagaimana dengan hatinya?
Siapa lagi orang yang mampu mencerahkan hari-harinya di kampung yang sangat terpencil ini? Mungkinkah dia masih sanggup tersenyum lepas seperti yang dilakukannya beberapa hari ini?
Sejak pertama kali bertemu dengan Alif sepekan yang lalu, Kinar merasa kemampuan pengobatan dan penyembuhan yang dimilikinya bertambah dahsyat, berkali lipat. Tubuhnya pun mampu menebarkan aroma bunga yang lebih keras dari sebelumnya. Apalagi jika Alif sedang berada di dekatnya. Ketakutan terhadap perlakuan kasar Korak pun sirna begitu saja.
Tapi, apa jadinya jika Alif sudah pergi nanti? Akankah dia akan kembali seperti sebelumnya atau malah lebih buruk? Seperti kerakap di atas batu.
Seorang dara patah hati yang tinggal di dalam hutan terpencil, menunggu belahan jiwanya kembali dengan ketidakpastian dan seluruh kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Tiba-tiba Kinar meneteskan air mata. Gundah ini serasa meremukkan dadanya dan meremas-remas hatinya. Dia betul-betul tak sanggup membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
Disisi lain, meskipun dia tidak ingin Korak segera siuman, tapi dia tetap memberikan pengobatan, perawatan, dan penyembuhan terbaik yang dia mampu. Dua hari yang lalu saat memberikan perawatan kepada Korak dia tetap melakukannya dengan sepenuh hati. Baginya tak ada musuh atau teman dalam hal pengobatan. Semua harus mendapatkan pengobatan terbaik.
(Bersambung)

0 Comments