Sepekan setelah malam kejadian pencabutan kapak.
Meskipun Kinar memiliki kemapuan pengobatan dan penyembuhan tingkat tinggi, tapi luka di kepala Korak Jambul bukanlah luka biasa yang hanya merobek kulit dan daging. Luka itu, selain telah merengkahkan kepalanya, juga telah menghancurkan sebagian tengkoraknya. Racun dari kapak yang menancap di kepalanya itu telah menyebar ke seluruh tubuh selama bertahun-tahun. Sangat sulit bagi Kinar untuk mengeluarkannya hingga bersih dari darah.
Kedua bola mata yang menjuntai keluar dan seluruh kulit yang hangus mengelupas bukanlah bagian dari kerusakan tubuh yang bisa diobati dengan kemampuan pengobatan yang dimiliki Kinar. Tapi paling tidak dia mampu membuat Korak Jambul tetap hidup hingga saat ini. Meski masih sekarat, tapi Korak Jambul masih hidup.
Sementara itu keadaan di hutan Teraploban.
Hidup berjalan sebagaimana biasanya, penuh tutur sapa yang ramah dan ada senyum di setiap wajah penduduknya. Mereka senang dengan kehadiran warga baru yang memberikan sedikit keceriaan sehingga Teraploban serasa menjadi tempat yang kembali layak untuk dihuni bagi semua makhluk. Dia adalah si pemuda yang kini masih tinggal bersama mereka, Alif Ba Ta, ksatria muda pemilik tombak pendek.
Ternyata, semua penghuni hutan Teraploban yang selama ini dianggap makhluk halus jahat oleh penduduk kampung adalah manusia biasa. Mereka, bukanlah hantu, jembalang, dan jin. Hanya saja rata-rata mereka memliki kekuatan sakti yang diturunkan dari kakek moyang mereka masing-masing, sebelum mereka pindah dan menetap dihutan ini.
(Kisah tentang bagaimana latar belakang mereka menjadi warga Teraploban akan Anda baca sekelumit ceritanya pada episode berikut yang berjudul, Kapak Jukas Juher Jauhari)
Setiap keluarga menguasai ilmu kekuatan yang berbeda dari keluarga lain. Ada yang bisa menyelam berjam-jam, ada yang mampu berjalan di atas air, ada yang bisa melesat seperti terbang, mengangkat beban berat, berjalan secepat angin, menjinakkan binatang buas, dan tentu saja ada yang mampu mengobati berbagai penyakit. Tentu saja semua kemampuan itu dipelajari untuk tujuan baik pada awalnya .
Empat orang anggota kelompok Gopang yang pada malam itu menyerang Alif, kini malah berbalik menjadi anak buah si pemuda. Kemanapun Alif pergi mereka selalu menyertai. Namun, Alif lebih suka untuk tidak ditemani, agar bisa bergaul dengan warga lebih dekat dan familiar, tanpa rasa mengintimidasi.
Nama keempat orang anggota Gopang itu antara lain, Ipul-si penjinak lebah, Rabat-si pelempar pisau, Sihol-si ahli sumpit, dan Rojak-si bulu landak.
Sejak kejadian malam itu mereka sekarang sudah banyak berubah. Tampilan merekapun sekarang sudah tidak seram lagi, sudah mendekati tampilan manusia normal. Bahkan Ipul menawarkan kepada Alif untuk tinggal bersama dipondoknyanya. Sebuah pondok sederhana, beratap jerami, berdinding kulit, beralaskan tanah, berukuran lebih kurang 5 X 5 meter.
Selama tinggal di Teraploban Alif banyak menghabiskan waktu bersama dengan Kinar. Alasannya, bukan hanya karena cantik tetapi Kinar juga adalah gadis yang sangat baik dan ramah. Semua warga menyukainya. Tak jarang mereka berkunjung ke rumah Kinar untuk meminta pendapatnya dalam hal pengobatan. Baik untuk pengobatan keluarga atau bahkan hewan ternak. Sebagai imbalan, para warga itu sering membersihkan dan memperbaiki rumah Kinar tanpa diminta atau dibayar.
Berbeda halnya dengan Alif, si warga baru. Tidak semua warga senang dengan kehadirannya. Ada beberapa orang yang tidak suka, bahkan membencinya. Mereka ingin keadaan kembali seperti sebelumnya.
Apalagi kini Alif terlihat dekat dengan Kinar. Mereka berdua selalu terlihat bersama dalam beberapa kesempatan. Tentu saja ini mengundang kecemburuan bagi beberapa orang. Tidak hanya para lelakinya, tetapi juga perempuannya.
Namun, untuk menegur atau menantang Alif secara langsung mereka tak memiliki keberanian. Mereka sudah melihat bagaimana nasib Korak Jambul dan anggota kelompok Gopang sekarang. Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling ditakuti dan dipatuhi di Teraploban selama ini. Maka jadilah orang-orang yang sakit hati ini hanya bergunjing saja tiap kali bertemu.
Pagi ini, selepas melaksanakan shalat Dhuha, Alif bermaksud mengunjungi rumah Korak Jambul, ingin melihat apakah beliau sudah siuman. Ingin sekali dia membawa beberapa buah tangan untuk tuan rumah. Tapi dia tak memiliki apapun untuk di bawa. Bahkan, dia sendiripun belum sarapan selain hanya secangkir kopi yang disediakan Ipul subuh tadi.
Dengan bacaan bismillah, dia mulai melangkah.
Sepanjang perjalanan dia berdoa kepada Allah semoga si pemimpin segera siuman. Dia sangat risau dengan keadaannya yang pingsan terlalu lama. Selain mengkhawatirkan nyawanya, Alif juga mengkhawatir warga Teraploban yang sekarang tak memiliki pemimpin. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang besar menimpa dusun itu sekarang? Siapa yang akan memberikan komando dan memberikan arahan? Tentu saja keadaan itu akan menjadi sangat kacau tanpa seorang pemimpin.
(Bersambung)

0 Comments