Setelah beberapa saat, berserulah Korak Jambul dengan dahak yang menggumpal di kerongkongannya, "Bantaaiiigrrrhhh...!!"
Secepat kilat keempatnya melepaskan jurus maut masing-masing.
Ribuan lebah berdengung-dengung terbang ke arah si pemuda. Empat pisau melesat ke arah leher dan perut. Setengah lusin jarum sumpit berkecepatan peluru mengarah ke muka dan dada. Ratusan duri landak hampir mustahil untuk dielakkan.
Namun, si pemuda sama sekali tak menghiraukan semua serangan mematikan itu. Dia bahkan tidak berusaha untuk mengelak. Dia malah duduk bersila dan menangkupkan kedua tangannya ke depan. Tombak kecil terselip diantara kedua telapak tangan itu.
Semua serangan maut itu tak satupun yang mampu menembus dan melukai tubuh si pemuda walau seujung rambutpun. Si pemuda tetap duduk tenang. Kedua matanya menatap ke arah kapak yang menancap di kepala Korak Jambul. Dia tak menghiraukan sama sekali keterkejutan di wajah keempat makhluk yang baru saja menyerangnya.
Secepat kilat serangan kedua dilancarkan dengan lebih dahsyat oleh keempat makhluk itu. Namun, hasilnya tetap sama saja. Semuanya jatuh ke tanah.
Serangan ketiga, keempat, dan seterusnya bertubi-tubi terus-menerus. Namun tetap saja tak satupun yang mampu menembus kekuatan tameng itu.
Setelah beberapa saat si pemuda mulai merasakan bahwa tenaga dalamnya hampir habis.
Secepat kilat dia berdiri, memasang kuda-kuda, dan melakukan serangan tiba-tiba ke arah Korak Jambul.
Tubuh si pemuda seperti melayang secepat angin ke atas kepala Korak Jambul. Dengan menggunakan kedua tangan disentakkannya kapak yang tertancap di benak makhluk itu hingga tercabut.
Kraaak....
Kapak tercabut, meninggalkan lubang besar menganga di kepala jembalang seram itu. Disertai dengan jeritan dahsyat yang membuat semua penghuni hutan Teraploban terkesima dan bergidik.
"Aaaaaaaaaaaaarrrrggghhhhhh........!!!"
Seketika, tubuh itu jatuh terkapar ke tanah, tertelentang. Kedua tangannya menekan dengan kuat kedua sisi kepalanya, kanan dan kiri. Seperti ingin menautkan kembali lubang menganga itu.
Anehnya, dari lubang itu tak ada yang mengalir keluar, kecuali hanya sedikit cairan yang berwarna hitam seperti darah yang hampir beku.
Si pemuda mendarat beberapa langkah dari Korak Jambul yang telah jatuh terkapar. Tangan kanannya kini memegang kapak kecil sehasta, dan tangan kirinya memegang tombak. Matanya menatap lekat ke arah empat makhluk yang tadi menyerangnya bertubi-tubi itu. Wajah mereka terlihat sangat ketakukan dan hanya terdiam mematung.
Korak Jambul terus mengerang dengan suara yang mengerikan. Kedua tangannya makin kuat menekan kedua sisi kepalanya. Badannya berkelojotan dan meregang seperti ayam yang baru disembelih.
Dengan langkah pelan si pemuda mendekati keempat jembalang yang masih diam memaku ketakutan. Perhitungan akan segera dibuat. Keempat jembalang akhirnya sadar bahwa si pemuda bukanlah tandingan mereka.
Beberapa langkah lagi akan sampai, mereka berempat akhirnya menjatuhkan diri dengan kedua lutut dan kedua tangan bertelekan ke tanah. Kepala mereka tunduk takzim. Ini adalah pernyataan menyerah.
Si pemuda pun menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang.
Tiba-tiba dari balik pohon tembusu muncul Kinar dengan senyum yang bercampur dengan kekhawatiran. Setelah kapak maut itu tercabut dari kepala si jembalang ada masalah yang lebih berat muncul. Kinar harus mampu menyelematkan makhluk seram itu. Dia tidak ingin makhluk itu meninggal. Sama sekali tidak mau. Semua kemampuannya akan dikerahkan untuk menyelamatkan makhluk seram itu.
Sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan pertama, menandakan fajar akan segera tiba. Hari baru akan segera dimulai.
Kinar melangkah mendekati si pemuda. Kali ini dia betul-betul melangkah dengan kedua kakinya. Meskipun ada beban berat yang akan segera ditanggungnya namun senyumnya tak pernah lepas dari bibir tipis itu.
Aroma bunga menyegarkan kembali tercium memenuhi ruang dada, membuat nyaman dan tenang.
Beberapa langkah di depan si pemuda dia berhenti dan menyapa, "Alif..!"
"Kinar...!" Jawab si pemuda balik menyapa.
"Izinkan saya mengobatinya." katanya meminta izin.
"Oh ya, silakan."
Lalu Kinar jongkok dengan kedua lututnya bertelekan ke tanah. Tangan kanannya manarik sapu tangan dari balik baju. Sapu tangan yang sama, yang dipakai saat mengobatinya tadi. Lalu Kinar mulai melakukan ritual pengobatan, membebat nadi menaut luka.

0 Comments