Korak Jambul Penguasa Teraploban - 5

Setelah itu dia kembali menegakkan badannya lalu memandang tersenyum ke arah si pemuda. 

Selanjutnya dia meluruskan kedua lengannya ke depan dengan kedua telapak tangan terbuka menghadap ke atas. Persis seperti orang yang sedang menampung air hujan. Lalu dengan kerdipan matanya dia meminta si pemuda melakukan hal yang sama. 

Si pemuda mengikuti apa yang disuruh oleh si gadis.

Sejenak dia memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Berikutnya ditiupkan kedua telapak tangan itu dengan lembut. Huuuuuufft...

Setengah nafas ke telapat tangan kanan, setengah lagi ke telapak tangan kiri. 

Seketika sebuah gelombang energi luar biasa seperti dicurahkan ke kedua telapak tangan itu. Aliran hangatnya menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh si pemuda. Tubuhnya seketika kembali terasa bugar, layaknya seperti baru bangun pagi dari tidur yang nyenyak malam tadi. 

Si gadis kembali tersenyum. Namun kali ini terlihat ada kegetiran di balik senyum itu. Sambil berbisik dia berkata kepada si pemuda, "Tolong bebaskan dia... Cabutlah kapak di kepalanya!"

Lalu dengan cepat dia berdiri tegak kembali. Membalikkan badan, dan mengambang di atas tanah bergerak menuju ke balik pohon tembusu, tempat dia datang tadi. Dan, hilang...

Si pemuda diam membisu tak sempat mengucapkan terima kasih dan mengajukan ribuan pertanyaan yang memenuhi benaknya. Mulutnya hanya ternganga, tapi tak sepatah katapun yang keluar. Padahal dia ingin sekali menahan si gadis agar tetap di sini, di sampingnya, menemaninya sampai fajar subuh terbit. Atau, bahkan menemaninya hingga ajal ditarik keluar dari raganya. Berdua saja.  

Keadaan kembali seperti tadi. Kembali angker dan menyeramkan. Bau daging terbakar kembali tercium merusak rangga dada. Korak Jambul kembali melangkah mendekat ke tempat si pemuda duduk. Sangat dekat, hingga dia bisa menarik telinga si pemuda dengan tangannya jika dia ingin memaksa si pemuda untuk berdiri. 

Kedua bola matanya yang menjuntai itu tetap tajam menatap si pemuda. Namun, tak ada kalimat yang ia lontarkan. Berdiri saja, menatap.

Si pemuda berusaha berdiri. Tombak kecil itu digunakan sebagai tongkat dengan ujungnya yang runcing menghadap ke atas.

Kini tubuhnya terasa seringan kapas. Energi sebesar gunung berkumpul di dalam dadanya dan mengalir di dalam nadinya hingga ke seluruh tubuh. 

Si pemuda lalu berkata kepada si makhluk seram yang menatapnya lekat-lekat itu.

"Maafkan saya Mbah, terima kasih telah mengizinkan saya duduk di sini. Sekarang saya mau pamit. Permisi!" Kata si pemudah tanpa menunggu jawaban dari Korak Jambul. Ia mulai menggerakan kaki kanannya untuk melangkah dengan ucapan bismillah. 

Namun tak disangka-sangka, ucapan itu malah dibalas dengan palu godam berduri yang melayang tiba-tiba ke arah perutnya. Korak Jambul sambil berteriak mengucapkan, "Tak adagrrh yang bolehgrrh meninggalkan tempat inigrrh hidup-hidup tanpa sayagrrh izinkanhgrrh."

Si pemuda sangat terkejut dan reflek mengelak, berkelit keluar dari jangkauan palu godam itu. 

Whuuuzzhhh...

Bunyi angin yang terbelah oleh palu godam yang tak mengenai sasaran. 

Berikutnya kembali Korak Jambul menyerang dengan bertubi-tubi, menggunakan palu godam berduri, hantaman kedua tangannya, dan tendangan-tendangan maut dari kedua kakinya. Tak ada kesempatan yang diberikan kepada si pemuda untuk menyadari apa yang baru saja terjadi, apa kesalahan yang telah dilakukannya.

(Bersambung)


Sebelumnya    Selanjutnya 


Post a Comment

0 Comments